Perwakilan dari Kel. Durikosambi dalam mensukseskan "AKSI SUPER DAMAI 212" Semoga apa yang diinginkan umat cepat diselesaikan dengan seadil-adilnya, tanpa melukai hati umat... Amin ya robb ya qobul....SELAMAT ATAS SUKSESNYA ACARA 212 SUPER
DAMAI SUASANANNYA, KALEM -LEMBUT AKSINYA DAN INDAH DO'A PARA ULAMANYA...!!!
Presiden RI Bapak Ir Joko Widodo dan Wakil Presiden Bapak Jusuf Kalla
Merinding melihat Presiden Jokowi berani datangi massa sedemikian banyaknya. Bersama Wapres dan menterinya, Presiden menerobos hujan menuju Monas. Sungguh keberanian yang luar biasa.Mereka yang dulunya koar-koar Presiden penakut, pengecut dan kabur, mereka harus menelan ludahnya sendiri. Di jaman ini, mungkin hanya Presiden Indonesia yang berani keluar istana menemui massa sebanyak itu lalu naik ke panggung dan menyapa semuanya.Kedatangan Presiden Jokowi ke Monas mengingatkan kita pada kejadian beberapa bulan yang lalu. Saat ada aksi teror di Jakarta, Presiden yang berada di Cirebon langsung bertolak ke Jakarta dan mendatangi lokasi. Datang tanpa rompi anti peluru, berjalan tanpa ragu menenangkan semua rakyat Jakarta.

Saya melihat kedatangan Jokowi ke Monas benar-benar disiapkan sangat matang oleh Polri dan TNI. Sangat terstruktur, sistematis dan massif. Kapolri yang sebelumnya mengatakan melarang aksi damai sebab Ahok sudah dijadikan tersangka, kemudian berubah pikiran dan mendatangi para pimpinan demo, melakukan negosiasi. Yang agak mengecewakan, Kapolri kemudian mengijinkan aksi 212. Ini sempat menimbulkan tanda tanya, bagaimana bisa kembali diijinkan? Tapi jika melihat kedatangan Jokowi ke Monas, semua ini benar-benar terencana dan kita patut berterima kasih pada Kapolri karena mau mengijinkan aksi ini. Ijin dari Kapolri ini sempat disambut riuh para provokator dengan segala kelebayannya. Bahkan SBY yang sebelum aksi 411 melakukan konferensi pers, sebelum 212 SBY menulis artikel panjang kali lebar sebagai pengganti konferensi pers. Salah satu kalimat provokasinya adalah:
“Pernyataan penegak hukum bahwa negara akan menindak siapapun yang melakukan tindakan makar, yang disampaikan beberapa hari yang lalu sepertinya tak menyurutkan gerakan pencari keadilan tersebut, bahkan membuat ketegangan sosial semakin meningkat. “Ketika akhirnya presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla menjanjikan bahwa kasus Pak Ahok itu akan diselesaikan secara hukum, boleh dikata ucapan kedua pemimpin puncak yang saya nilai tepat dan benar itu lambat datangnya. Sama saja sebeanrnya dengan penanganan kasus Pak Ahok yang dinilai too little and too late. Nampaknya sudah terlanjur terbangun mistrust dari kalangan rakyat terhadap negara, pemimpin dan penegak hukum. Sudah ada trust deficit.”
Itu tulisan SBY yang cukup provokatif, masih sama seperti istilah Lebaran Kuda pada konferensi pers sebelum 411. Lebih dari itu, SBY menyebut ada pihak-pihak lingkaran kekuasaan yang menginginkan kudeta atau makar. “Di samping ada pihak di luar kekuasaan yang berniat lakukan makar, menurut rumor yang beredar, katanya juga ada agenda lain dari kalangan kekuasaan sendiri. Skenario yang kedua ini konon digambarkan sebagai akibat dari adanya power struggle di antara mereka.”Banyak orang menyayangkan tulisan SBY yang seperti itu. Ini jelas tidak menunjukkan kenegarawanan seorang mantan Presiden Indonesia, bahkan saya merasa prihatin negeri ini pernah dipimpin oleh SBY selama 10 tahun. Prihatin sekali. Tulisan SBY ini kemudian menimbulkan spekulasi baru. Sebab harus kita akui bahwa SBY adalah satu-satunya tokoh yang tidak didatangi Presiden ataupun diundang ke Istana. Prabowo didatangi dan diundang, Mega diundang, Surya Paloh, Romy sampai Muhaimin Iskandar diundang ke Istana. Sementara politisi Demokrat menginginkan Jokowi menemui SBY, sampai sekarang Jokowi belum menemui atau mengundang SBY. .
Sementara itu ada fakta sejarah lainnya, yaitu saat Jokowi menemui Prabowo di Hambalang, SBY menemui JK dan Wiranto dan sedikitpun tidak ada yang bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Sehingga rumor yang berkembang adalah SBY membujuk JK untuk naik sebagai Presiden, lalu Wiranto sebagai Wapresnya setelah melengserkan Jokowi. Kebetulan dua orang ini (JK Wiranto) adalah pasangan Capres-Cawapres pada 2009 lalu yang kalah dengan SBY-Boediono. Bahkan saya mendapat pesan serius dari beberapa orang yang saya tau cukup kredibel, meminta pesan rumor pertemuan SBY dengan JK dan Wiranto untuk disampaikan pada Presiden Jokowi langsung.
Sementara itu ada fakta sejarah lainnya, yaitu saat Jokowi menemui Prabowo di Hambalang, SBY menemui JK dan Wiranto dan sedikitpun tidak ada yang bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Sehingga rumor yang berkembang adalah SBY membujuk JK untuk naik sebagai Presiden, lalu Wiranto sebagai Wapresnya setelah melengserkan Jokowi. Kebetulan dua orang ini (JK Wiranto) adalah pasangan Capres-Cawapres pada 2009 lalu yang kalah dengan SBY-Boediono. Bahkan saya mendapat pesan serius dari beberapa orang yang saya tau cukup kredibel, meminta pesan rumor pertemuan SBY dengan JK dan Wiranto untuk disampaikan pada Presiden Jokowi langsung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar